Halaman 149

Ramadhan ini 
Aku pikir aku sudah bisa melangkah lagi.
Sudah kucoba kubungkus semua yang perih itu dengan hati-hati, kulempar daun-daun kering supaya terlihat seperti tanah yang damai. Aku bilang pelan pada diriku: sudah, sekarang boleh bernapas lega.
Tapi tanganku ini... entah kenapa masih suka kembali.

Bukan dengan amarah, bukan dengan paksa. Hanya dengan rindu yang pelan, dengan harap yang kecil-kecilan. Aku menggali lagi, bukan karena ingin menyakiti diri, tapi karena aku takut kalau tanah itu terlalu kosong, aku akan lupa bagaimana rasanya merasa sesuatu.

Aku mencoba menempelkan pecahan-pecahan itu dengan apa yang kukira cinta.
Bukan cinta yang besar dan membara, tapi yang lembut, yang bergetar, yang kugenggam pelan sambil berharap “mungkin kalau aku cukup sabar, ini bisa menyatu”. Aku tak sadar, yang kutempelkan itu masih kaca yang sama rapuhnya, hanya kucat dengan warna-warna harapan.

Dan aku capek.
Bukan capek yang ingin menyerah, tapi capek yang ingin berhenti berpura-pura kuat. Capek ingin bilang “aku baik-baik saja” padahal mataku masih basah setiap kali sendirian.
Aku rindu jalan yang dulu.
Bukan jalan yang mulus, tapi jalan yang jujur. Jalan di mana aku masih berani berjalan pelan, tanpa harus buru-buru membuktikan bahwa aku sudah sembuh. Jalan di mana tujuanku masih terasa dekat, meski langkahku kecil dan kadang tersandung.

Mungkin sekarang aku boleh berhenti menggali sebentar.
Boleh duduk saja di sini, di tanah yang sudah kukenal baik. Membiarkan angin menyapa apa yang selama ini kusembunyikan. Membiarkannya terlihat—lembut, rapuh, tapi nyata. Tanpa buru-buru menutupinya dengan cerita baru.

Aku ingin pulang.
Pulang ke diriku yang masih ingat bagaimana rasanya mencintai tanpa takut kehilangan. Yang masih percaya bahwa sembuh itu tak harus cepat, tak harus sempurna. Yang masih mau berjalan, walau hanya selangkah demi selangkah.
Maaf ya, sayang... aku sempat tersesat.
Tapi sekarang aku sedang melangkah pulang, pelan-pelan.
Kali ini, aku tak mau buru-buru menutup apa pun.
Aku mau belajar memeluk semuanya apa adanya dulu.
Baru nanti, kalau waktunya tiba, aku akan tahu cara menyayangi lagi—tanpa paksa, tanpa lem yang terlalu keras.
Aku di sini.
Dan itu sudah cukup untuk hari ini
 🌿

Postingan populer dari blog ini

Halaman 150

Halaman 130

Halaman 128