Di kota yang tak pernah tidur, bernama Sibuktan yang kelam, hidup seorang perempuan bernama laila, yang perlahan mati di dalam diam. Pagi hingga malam ia berlari tanpa arah yang jelas, dunia memeluknya erat, sambil berbisik manis: “Tetaplah di sini, jangan pergi ke mana-mbak.” Dunia ini tak pernah capek menyanyi lagu palsu yang indah, “Kasih aku hatimu, aku yang paling setia, yang paling nyata.” Manusia pun jatuh cinta pada bayangan yang cepat pudar, lupa bahwa pelukan itu perlahan membawanya ke jurang yang gelap dan dalam. Suatu malam yang hitam pekat, mimpi datang bagai pisau tajam, Laila berdiri sendirian di depan gerbang neraka yang menganga lebar. Udara panas membakar kulit, bau belerang menusuk hidung, malaikat penjaga berdiri diam, matanya kosong tanpa ampun. Di layar raksasa yang menyala merah, terpampang seluruh hidupnya, setiap detik ia pilih dunia, setiap kali ia lupa Tuhannya. Laila gemetar hebat, tangannya dingin seperti mayat hidup, lalu ia berteriak dengan su...