Halaman 163


Di kota yang tak pernah tidur, bernama Sibuktan yang kelam,
hidup seorang perempuan bernama laila, yang perlahan mati di dalam diam.
Pagi hingga malam ia berlari tanpa arah yang jelas,
dunia memeluknya erat, sambil berbisik manis: “Tetaplah di sini, jangan pergi ke mana-mbak.”
Dunia ini tak pernah capek menyanyi lagu palsu yang indah,
“Kasih aku hatimu, aku yang paling setia, yang paling nyata.”

Manusia pun jatuh cinta pada bayangan yang cepat pudar,
lupa bahwa pelukan itu perlahan membawanya ke jurang yang gelap dan dalam.
Suatu malam yang hitam pekat, mimpi datang bagai pisau tajam,

Laila berdiri sendirian di depan gerbang neraka yang menganga lebar.
Udara panas membakar kulit, bau belerang menusuk hidung,
malaikat penjaga berdiri diam, matanya kosong tanpa ampun.

Di layar raksasa yang menyala merah, terpampang seluruh hidupnya,
setiap detik ia pilih dunia, setiap kali ia lupa Tuhannya.
Laila gemetar hebat, tangannya dingin seperti mayat hidup,
lalu ia berteriak dengan suara parau penuh penyesalan yang tak terobati:

Ya laytanī...
Seandainya aku tidak pernah mencintaimu, wahai dunia yang curang.
Seandainya aku tidak jatuh hati pada tipuanmu yang manis dan mematikan.
Kini aku berdiri di sini, menggigit jari hingga berdarah,
menyesal karena telah memilih yang salah, dan meninggalkan yang abadi.

Malaikat itu membuka mulutnya, suaranya datar tapi menghancurkan:
“Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami,
dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengannya,
mereka itulah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami,
dan tempat tinggal mereka adalah neraka.”
(QS. Yunus: 7-8)

Lalu datang ayat yang lebih menusuk lagi:
“Pada hari itu orang zalim menggigit kedua tangannya seraya berkata:
‘Seandainya aku dulu mengambil jalan bersama Rasul.
Celakalah aku! Seandainya aku tidak menjadikan si fulan sebagai teman karibku.
Dia telah menyesatkan aku dari peringatan setelah peringatan itu datang kepadaku.’
Dan sesungguhnya setan itu selalu mengecewakan manusia.”
(QS. Al-Furqan: 27-29)

Laila menangis tanpa air mata, suaranya pecah dalam kegelapan:
“Dunia... aku salah mencintaimu. Kau yang kucinta lebih dari segalanya,
kau yang kuberikan seluruh waktuku, seluruh hatiku yang rapuh.
Kau janji bahagia, kau beri aku segala yang indah di mata,
tapi kau hanya tipuan. Dan kini... kita ga usah berjumpa lagi.
Aku tak mau lagi melihat wajahmu yang manis tapi beracun.
Kita ga usah berjumpa lagi, wahai dunia yang licik.

Biarkan aku kembali, biarkan aku taubat sebelum pintu ini benar-benar tertutup.”
Tapi malaikat hanya tersenyum tipis, dingin:
“Terlambat. Di sini penyesalan tak lagi berguna.
Yang kau cintai telah membawamu ke sini, dan kau telah memilihnya dengan sadar.”

Laila terbangun dengan jeritan yang menggema di kamar gelap,
tubuhnya basah keringat, napasnya tersengal seperti orang yang baru tenggelam.
ibunya terbangun ketakutan: “mbak... mimpi apa? Kamu menangis?”
Laila duduk di tepi kasur, suaranya rendah dan hancur:
“Aku mimpi bertemu dunia... dan aku bilang padanya:
Kita ga usah berjumpa lagi.
Karena aku sudah terlalu lama mencintai yang salah.

Dunia ini tak pernah lelah membuat kita lalai,
sampai kita lupa bahwa siksaan itu nyata, dan penyesalan di akhir tak ada obatnya.”
Sejak malam itu, Laila berubah.
Ia masih hidup di dunia, tapi hatinya sudah dingin terhadapnya.
Setiap kali dunia menggoda dengan cahaya lampu neon dan notif yang berkedip,
ia hanya berbisik pelan dengan nada getir:
“Maaf. Kita ga usah berjumpa lagi.

Aku sudah cukup menyesal karena pernah mencintaimu terlalu dalam.”
Dan di dalam diamnya yang gelap, ia berdoa semoga penyesalan itu datang sebelum terlambat,
sebelum pintu taubat benar-benar tertutup selamanya.

rumah 30 Maret 2026
Rara 💔

Postingan populer dari blog ini

Halaman 150

Halaman 130

Halaman 128