Halaman 156
Bayangan yang Menelan Akarnya Sendiri
Sabtu 28 Maret 2026
Di relung dada yang lembap dan gelap,
aku tanam benih dusta yang manis,
bukan karena ingin membunuh,
tapi karena takut jika cahayamu melihat
betapa busuknya tanah di bawah kulitku.
Aku siram dengan kata-kata palsu yang hangat,
dengan senyum yang aku pinjam dari mimpi buruk,
agar kau tetap dekat,
agar aku tak lagi sendirian dengan monster
yang selama ini kumakan diam-diam setiap malam.
Kau datang seperti lentera di lorong bawah tanah,
menerangi sudut-sudut yang bahkan aku tak berani sentuh.
Bunga palsuku mekar semu, indah di permukaan,
tapi akarnya sudah membusuk sejak awal—
merayap, meracuni, memakan dirinya sendiri.
Ketika kejujuran itu akhirnya kucabut seperti pisau karatan,
kau melihatnya:
bukan sekadar duri,
tapi lubang hitam yang selama ini kusia-siakan,
tempat segala hal yang aku benci tentang diriku
bersembunyi dan bertumbuh subur.
Kau mundur, bukan karena marah,
tapi karena kau melihat bayangan di belakangku
mulai menelan aku hidup-hidup.
Matamu yang dulu penuh cahaya,
kini hanya memantulkan kegelapan yang tak sanggup kau tanggung.
Aku tersisa di sini,
memeluk batang yang sudah lapuk,
tertawa pelan pada diri sendiri—
tertawa yang retak, seperti kaca yang pecah di dalam dada.
Maaf, lentera,
karena aku tak cukup berani memadamkan api dustaku sejak awal.
Aku memilih membiarkanmu terbakar pelan-pelan
dengan asap kebohongan yang aku hembuskan sendiri.
Terima kasih,
karena sesaat kau membuat monster di dalamku
merasa seperti manusia biasa.
Tapi sekarang aku tahu:
aku bukan taman,
aku adalah reruntuhan yang sedang belajar
cara tidak menyeret orang lain ke dalam kehancuran.
Kini aku tenggelam lebih dalam ke kegelapan milikku,
mengunyah sisa-sisa bunga yang layu dan beracun,
belajar bahwa luka terdalam bukan dari penolakanmu,
tapi dari kebiasaan lama:
pura-pura utuh,
padahal sudah hancur sejak lama.
Aku akan pulang ke gua di dalam dada ini,
merapikan tulang-tulang dusta yang berserakan,
dan mungkin suatu hari—
jika kegelapan ini tak membunuhku dulu—
aku akan belajar menanam lagi,
kali ini dengan akar yang tak lagi takut pada cahaya.
Tapi malam ini,
aku hanya ingin diam.
Mendengar detak jantung yang lelah,
dan merasakan betapa beratnya
menjadi orang yang akhirnya jujur,
setelah terlalu lama
menipu dirinya sendiri.