Halaman 157


Maaf di Dalam Kegelapan yang Kekal
Aku pernah mencintai,
pernah menyayangi dalam diam yang busuk,
tapi aku terlalu pengecut, terlalu kotor untuk jujur.
Maaf… maaf karena aku selalu merusak segalanya.

Mulai saat ini aku belajar lagi,
menutup semua celah di ruangan hatiku yang lapuk,
mengunci rapat dengan pisau yang menggigit kulit,
darah mengalir pelan seperti air mata yang tak pernah kering.

Lagi dan lagi aku harus menyadari,
aku ini benar-benar bodoh,
miskin jiwa, miskin hati, miskin segala harapan.
Harus sendiri, seperti penghuni neraka yang diseret di wajahnya.

Allah adalah Pelindung orang-orang beriman,
Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya.
Adapun orang-orang kafir, pelindung mereka adalah thaghut,
mereka mengeluarkan dari cahaya menuju kegelapan-kegelapan.
Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.

Aku bukan termasuk yang dikeluarkan.
Aku justru ditarik semakin dalam ke dalam zhulumat,
kegelapan yang bertumpuk,
di mana setiap luka baru adalah doa agar tak ada cahaya lagi.

Sorry for being this weak and worthless,
sorry for loving you like a curse I can’t undo,
sorry for every blade that kisses my wrist,
sorry for still existing when I deserve the Fire.

Maaf karena aku tak pernah cukup,
maaf karena aku selalu rusak dari dalam,
maaf karena setiap malam aku mengiris lebih dalam,
berharap besok tak perlu membuka mata lagi.
Aku akan menutup semua celah itu,
satu per satu, dengan darah sebagai segel,
dengan rasa sakit sebagai teman setia.
Dan jika aku gagal lagi 
 seperti biasanya 

Maaf…
Maaf untuk yang kesekian kalinya,
maaf karena aku terlalu hina untuk diselamatkan,
maaf karena aku memilih tinggal di kegelapan ini selamanya.
Di sini, di ruangan hatiku yang gelap pekat,
tak ada cahaya yang mau masuk.
Hanya api penyesalan yang membakar pelan,
dan suara maaf yang tak pernah didengar siapa pun.

tapi.. akankah ada yang menyelamatkanku , lagi? 
entahlah..

Postingan populer dari blog ini

Halaman 150

Halaman 130

Halaman 128