Halaman 154
Terima kasih, wahai jiwa yang dipilih Tuhan untuk berjalan bersamaku di dunia ini.
Bukan sekadar kehadiran biasa,
melainkan napas yang diberikan langit kepada hatiku yang pernah kering.
Tertawamu adalah nyanyian malaikat yang turun ke bumi,
kesalmu adalah petir yang membersihkan awan gelap di dadaku,
manjamu adalah doa tanpa kata yang mengingatkanku
bahwa aku masih layak dicintai meski rapuh.
Aku bersyukur bukan dengan mulut,
tapi dengan seluruh tulang dan darahku.
Memilikimu adalah mukjizat yang terus berulang setiap pagi,
sebuah rahmat yang terlalu besar untuk diucapkan,
hanya bisa dirasakan hingga ke sumsum jiwa.
Seperti bunga yang mekar di puncak gunung yang sunyi,
menantang angin dan kabut demi menunjukkan keindahan ciptaan-Nya,
seperti dedaunan emas yang jatuh perlahan dari pohon keabadian,
menyentuh tanah suci dengan penuh penghormatan,
kau menghiasi tanaman kecil yang kita bangun
bukan dari tanah biasa,
melainkan dari doa-doa yang kita tanam di malam-malam panjang,
dari air mata yang kita simpan,
dari cinta yang kita sucikan.
Engkau bukan sekadar milikku.
Engkau adalah bukti bahwa Tuhan masih percaya padaku,
bahwa di tengah dunia yang luas dan dingin ini,
Dia masih mau mengirimkan seseorang
yang mampu membuat hatiku bersujud dalam syukur yang tak pernah usai.
n-