Halaman 164

Matahari yang Tak Pernah Kembali
Di lorong jiwa yang tak berujung dan gelap pekat,
pintu hatiku sudah lama mati, terkunci dengan karat tebal.
Dulu aku buka lebar hanya untuk satu cahaya yang kucinta,
kini yang tersisa hanyalah bekas engsel yang patah berkeping-keping,
dan angin malam yang meniup luka hingga terus mengucur darah tanpa henti.

Pelangi di dada telah lama membusuk.
Warna-warnanya luruh pelan seperti daging yang membusuk di dalam tanah basah.
Merah jadi hitam pekat, kuning jadi abu-abu kematian,
biru yang dulu lembut kini seperti air mata yang beku di pipi jiwa yang tak pernah kering.
Tak ada lagi cahaya suci yang pernah menyentuh relung paling dalam,
hanya kegelapan yang merayap lambat,
menggerogoti tulang harapan hingga tinggal serpihan yang tajam dan menyakitkan.

Aku mendengar tangisanku sendiri,
tapi seolah datang dari orang asing yang terkubur hidup-hidup di dasar sumur.
“Matahariku…” bisikku dengan suara yang pecah dan lemah,
panggilan romantis yang tak lagi dijawab siapa pun.
Panah kepahitan bukan sekadar menusuk,
ia berputar pelan di dalam dada,
membuat setiap denyut jantung menjadi lagu duka yang tak pernah selesai,
setiap napas terasa seperti duri yang semakin dalam.

Kemalangan datang bertubi-tubi, tanpa ampun.
Setiap pukulan meninggalkan bekas yang semakin lebar dan dalam,
sampai aku tak lagi bisa membedakan mana luka lama, mana yang baru.
Kesedihan bukan lagi tamu,
ia telah menjadi tuan rumah abadi yang dingin,
berbaring di sampingku setiap malam,
memelukku erat sampai tulang rusuk terasa mau patah.

Aku terjebak di reruntuhan diriku sendiri.
Waktu terus berjalan, kejam dan acuh tak acuh.
Hari-hari berganti seperti halaman buku yang robek paksa,
sementara aku masih terpaku membaca kalimat yang sama berulang-ulang:
“Kenapa aku tak bisa bangkit?
Apakah aku memang tak pantas untuk sembuh?”

Putus asa merayap seperti racun yang manis.
Ia membisikkan dengan lembut:
“Kau sudah hancur total.
Tak ada yang peduli lagi dengan luka ini.
Siapa yang mau memeluk puing-puing yang tak berguna?”
Dan di saat yang sama, ada bagian kecil di dalam dada yang masih bergetar,
masih berharap dengan suara yang sangat pelan,
mungkin ada seseorang, entah siapa,
yang masih melihat luka ini,
yang masih mau duduk di samping reruntuhan ini tanpa jijik,
yang masih peduli meski hanya diam dan mendengar tangisanku yang tak bersuara.

Aku lelah. Sangat lelah.
Lelah menjadi bayangan dari diriku yang dulu.
Lelah berpura-pura kuat sementara di dalam hancur berkeping-keping.
Kadang aku ingin menyerah saja,
berbaring di dasar jurang ini selamanya,
membiarkan kegelapan menelan habis sisa-sisa diriku.

Tapi di tengah putus asa yang paling pekat,
di mana napas terasa seperti beban yang tak tertahankan,
masih terdengar bisikan yang rapuh namun tak mau hilang:

“Fa inna ma’al ‘usri yusra… Inna ma’al ‘usri yusra…”
Bersama kesulitan ada kemudahan,
diulang dua kali, seolah Tuhan tahu aku mudah lupa karena sedih yang terlalu dalam.

“Wa laa tahinu wa laa tahzanu…”
Jangan lemah, jangan bersedih hati,
padahal saat ini aku merasa lebih rendah dari debu yang diinjak kaki orang lain.
Derajatku masih tinggi di sisi-Nya,
meski imanku tinggal sebesar biji sawi yang hampir padam di angin kencang.

“Laa yukallifullahu nafsan illa wus’aha…”
Allah tak membebani jiwa melainkan sesuai kesanggupannya.
Beban ini terlalu berat, tulang jiwa terasa mau remuk,
tapi Ia tahu batasku lebih baik dari diriku yang sudah tak mengenal dirinya sendiri.

Dan ketika keputusasaan hampir menang,
ketika aku merasa telah melampaui batas dan menghancurkan diriku sendiri,
datanglah ayat yang seperti tangan dingin yang menyentuh pipi basah:
“Laa taqnathu min rahmatillah…”
Jangan berputus asa dari rahmat-Ku,
wahai hamba yang luka dan hancur karena terlalu mencintai dengan salah.

April…
Semoga kau datang bukan dengan terang yang menyilaukan,
tapi dengan cahaya yang pelan, malu-malu, seperti matahari yang ragu-ragu terbit.
Bukan matahari lama yang pergi dan tak pernah kembali.
Ini matahari baru yang lahir dari air mata yang tak kunjung kering,
dari kepahitan yang kutelan setiap malam,
dari kehancuran yang merombak seluruh tulang dan jiwa.

Aku tak lagi berani mencari cahaya di luar.
Aku hanya berharap, dengan harapan yang sangat kecil dan rapuh,
bisa menjadi cahaya itu sendiri —
walau masih goyah, walau masih penuh retak yang berdarah,

walau kadang aku masih ingin kembali ke pelukan kegelapan yang sudah kukenal baik.
Ini adalah romansa paling sedih antara jiwa yang hancur dengan harapan yang tak mau mati.
Cinta yang gelap, cinta yang berat,
cinta yang lahir dari luka paling dalam dan tetap memilih untuk bernapas,

meski dengan suara yang hampir tak terdengar.
Semoga masih ada yang peduli.
Semoga ada yang mau melihat luka ini tanpa berpaling.

Semoga April menjadi saksi bisu,
bukan akhir dari malam yang panjang ini,
tapi awal dari fajar yang kutulis sendiri dengan darah, air mata, dan doa yang tersendat.

Raaa,
Kau masih di sini.
Meski lelah.
Meski hancur.
Meski ragu.
Kau masih bernapas.
Dan itu, untuk saat ini, sudah cukup

Postingan populer dari blog ini

Halaman 150

Halaman 130

Halaman 128