Halaman 167

Bismillahirrahmanirrahim 

Untukmu, 
 yang sedang berdiri di titik terendah yang hanya mata manusia yang melihat rendah.
Aku melihatmu.

Bukan sekadar sosok yang kini terasa sendirian di tengah keramaian dunia, tapi seorang lelaki yang pikirannya selalu berlari — fastabiqul khairat — mengejar kebaikan yang tak pernah cukup baginya. Kau perfeksionis, idealis, dan itu membuatmu luar biasa… sekaligus membuat dunia terasa terlalu sempit untukmu.Kamu boleh saja merasa sendirian di dunia ini… tapi ternyata, kamu tidak.
Allaah lebih dekat daripada urat lehermu. Saat kamu merasa rendah di mata manusia, saat kesendirian itu terasa begitu nyata, ingatlah bahwa Dia sedang membentukmu menjadi lelaki yang lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih dekat kepada-Nya.

Kadang, jiwa seperti milikmu merasa paling kesepian bukan karena tak ada orang di samping, tapi karena tak ada yang mampu menyamai kedalaman pandanganmu. Kau melihat apa yang orang lain abaikan. Kau menuntut kesempurnaan dari dirimu sendiri di saat orang lain sudah puas dengan setengah hati. Itu bukan kelemahan. Itu adalah keindahan yang menyakitkan. Sebuah psikologi jiwa yang Allaah ciptakan khusus untuk orang-orang yang hatinya tak pernah diam.

Tapi dengarlah, wahai yang sedang berada di lembah terdalam ini:
Kamu boleh saja merasa sendirian di dunia ini… tapi ternyata, kamu tidak.

Allaah berfirman dalam Al-Qur'an surah Ad-Dhuha ayat 11:
"Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan."
Nikmat terbesar yang tak pernah kau lihat saat ini adalah: kau tak pernah benar-benar sendiri. Allaah lebih dekat daripada urat lehermu (Q.S. Qaf: 16).

 Saat kau merasa terjatuh, saat kau merasa tak ada yang mengerti, saat doa-doa seolah menggantung di langit… Dia sedang menggenggam hatimu dengan kasih sayang yang tak terbayangkan.

Dan dalam surah Al Insyirah ayat 5-6, Allaah berjanji dengan tegas:
"Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan."

Dua kali Allaah ulang, agar hatimu yang lelah ini percaya. Kesendirianmu bukan akhir cerita. Ini hanya bagian dari perjalanan seorang hamba yang sedang dipersiapkan untuk sesuatu yang lebih agung.

Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya Allaah tidak akan menyia-nyiakan doa hamba-Nya yang selalu berusaha dan bertawakal." (HR. Tirmidzi)

Doamu yang kau bisikkan di tengah malam, harapanmu yang kau simpan rapat-rapat, idealisme yang membuatmu tak mau menyerah pada yang biasa-biasa saja… semoga Allaah kabulkan di waktu yang paling tepat Bukan di waktu yang kau inginkan, tapi di waktu yang paling indah untuk ceritamu.

Untukmu
yang hatinya sedang berada di titik terendah, tapi jiwanya tetap melambung tinggi dengan pemikiran yang luar biasa.

Meski jarak ini masih begitu jauh, aku ingin menyampaikan sesuatu dari hati yang paling dalam. Aku malu, sebenarnya. Malu karena merasa kecil di hadapan kedalaman pikiranmu yang selalu fastabiqul khairat, yang perfeksionis dan idealis. Tapi justru karena itu, aku memberanikan diri menulis. Karena kadang, keindahan tak perlu dilihat dulu untuk dirasakan.

Aku pun, dengan segala kerendahan hatiku, merasa takut untuk berharap terlalu besar. Aku bukan lagi wanita yang "utuh sendiri" seperti dulu —Aku seperti pohon yang telah berbuah dua kali: sudah melalui musim semi pertama, sudah merasakan hujan dan panas kehidupan, sudah memberi kehidupan baru. Bukan lagi bibit yang rapuh, tapi akar yang lebih dalam, daun yang lebih teduh, dan siap memberi ketenangan yang lebih tulus. Aku tak lagi sempurna di mata dunia, tapi aku belajar bahwa keutuhan sejati bukan dari "belum pernah", melainkan dari hati yang tetap mau tumbuh dan memberi.

Aku hanya ingin kau tahu:
Aku melihatmu
Aku kagum padamu.
Aku melihat keindahanmu, meski dari jauh. Dan Aku mendoakan yang terbaik untukmu, dengan malu yang tulus.
Dengan doa dan harapan yang lembut,
Dan meski aku merasa kecil di hadapan kedalaman jiwamu, aku tetap ingin berdiri di sampingmu — bukan sebagai penyelamat, karena penyelamat harus memiliki segalanya untuk menarik sesuatu agar tetap berdiri, tapi sebagai saksi bahwa keindahanmu tak pernah hilang, bahkan di titik terendah sekalipun.

Semoga Allaah menjaga hatimu yang mulia ini.
Semoga Allaah mengangkatmu dengan cara yang tak pernah terpikirkan oleh siapa pun, termasuk dirimu sendiri. 

dari yang menyayangi mbul -

Postingan populer dari blog ini

Halaman 150

Halaman 130

Halaman 128