Halaman 168

Aku duduk sendirian di sudut malam yang sunyi,
mengintip ke dalam diriku sendiri,
dan ternyata… sakit sekali.

Aku melihat gadis kecil di dalam dada ini
yang masih menunggu dengan harap yang rapuh,
menunggu seorang lelaki,
pendamping hidup yang sebenarnya,
entah dia sedang berjalan di bumi ini
atau sedang menunggu di suatu sudut surga.

Tapi semakin aku melihat ke dalam,
semakin aku takut dengan apa yang kutemukan.
Aku bingung.
Aku lelah dengan diriku yang sebenarnya,
dengan lubang-lubang yang tak kunjung terisi,
dengan rasa takut yang diam-diam berbisik,
“Bagaimana jika aku tak pernah cukup?”
Aku menunggu bukan hanya dia,
tapi juga versi diriku yang lebih utuh.

Menunggu agar hatiku berhenti bergetar ketakutan
setiap kali aku berani melihat ke cermin jiwa.
Kadang aku bertanya-tanya dalam diam,
apakah aku menunggu dia…
atau aku sebenarnya sedang menunggu diriku sendiri
untuk belajar mencintaiku dulu,
sebelum Tuhan mengirimkan seseorang
yang bisa  be dengan cara yang aku takut untuk terima.

Aku sakit melihat diriku yang sebenarnya,
tapi di balik sakitr itu,
ada bisikan pelan yang lembut:
“Sabarlah, ra.
Luka ini sedang mengajarmu
menjadi rumah yang layak
bagi cinta yang akan pulang,
baik dari dunia
maupun dari surga.”

Postingan populer dari blog ini

Halaman 150

Halaman 130

Halaman 128